Pura yang Tergolong Peninggalan Bali Kuno dan Memiliki Peninggalan Batu Sakral yang Berasal dari Zaman Megalitikum

Bali sebagai Pulau Seribu Pura memang benar adanya, di setiap pelosok daerah di Bali pasti terdapat Pura. Salah satu Pura yang tergolong kuno dan tua yang ada di Bali adalah Pura Kehen. Pura ini merupakan tempat persembahyangan bagi masyarakat umat Hindu. Pura Kehen memiliki tampilan arsitektur yang megah dan indah. Pura Kehen berlokasi di Desa Cempaga, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Adapun jarak tempuh dari pusat Kota Denpasar menuju lokasi Pura sekitar 38,3 km, dengan waktu tempuh sekitar 57 menit perjalanan.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Pura Kehen memiliki latar belakang historis masa lalu yang cukup menarik untuk diketahui. Di sana terdapat peninggalan batu-batu sakral termasuk arca batu yang berasal dari zaman megalitikum. Hal ini sangat baik bagi kalian yang ingin belajar mengenai sejarah masa lampau kehidupan di Bangli pada zaman tersebut. Terdapat sejumlah prasasti yang berkaitan dengan berdirinya Pura Kehen, seperti Prasasti Bali I (berbahasa Bali Kuno) yang berangka tahun Isaka antara 804-836 dan Prasasti Bali II (berbahasa Jawa Kuno) yang berangka tahun Isaka antara 938-971. Kemudian pada Prasasti Bali III (berangka tahun 882-914 Masehi), menyebutkan Hyang Api menjadi Hyang Kehen dan hingga kini dikenal sebagai Pura Kehen.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Pura Kehen tergolong ke dalam peninggalan Bali Kuno yang erat kaitannya dengan sejarah Kerajaan Bangli. Pada Pura ini terdapat pintu masuk (candi bentar) dengan menggunakan candi kurung, sehingga terlihat megah. Ada hal unik yang terdapat di Pura Kehen, di mana ada sebuah bale kulkul pada dahan pohon beringin yang sangat jarang dapat kita jumpai. Areal utama Pura terdapat bangunan pemujaan (pelinggih) meru tumpang 11 dan pelinggih lainnya sebagai tempat pemujaan Dewa Tri Murti.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Di sana terdapat sebuah pohon beringin besar yang umurnya sudah sangat tua. Masyarakat sekitar meyakini jika ada dahan yang patah pada pohon beringin tersebut akan muncul sebuah musibah. Hal ini dipercaya pada saat Raja Bangli meninggal dunia, dahan beringin yang berada pada Timur Laut patah. Ada juga Pendeta yang meninggal dunia dan dahan pohon sebelah Barat Daya patah. Cerita dan keyakinan ini terus berkembang hingga kini. Bagi kalian yang akan berkunjung ke Pura ini, maka kalian akan merasakan sendiri getaran sakral dan aura mistis dari Pura Kehen.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Jadi, bagi kalian yang sedang berada di daerah Bangli jangan lupa untuk mengunjungi Pura Kehen. Tidak lupa juga untuk menghormati dan menghargai segala aturan yang berlaku di Pura tersebut, dengan menggunakan kain (kamen) dan pengikat kain (selendang). Diingatkan juga bagi wisatawan perempuan yang sedang mengalami menstruasi untuk tidak memasuki areal Pura demi menjaga kesucian Pura.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *