Pura yang Diyakini Menjadi Bukti Berkembangnya Ajaran Hindu Tantrayana di Bali dan Tempat Memohon Obat untuk Kesembuhan

Pulau Bali dahulu terdiri dari kerajaan-kerajaan yang tersebar di berbagai daerah. Salah satu pusat kerajaan kuno di Bali terdapat pada daerah Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Tidak mengherankan apabila kawasan ini terdapat banyak peninggalan kuno, seperti arca-arca, prasasti, dan fragmen. Biasanya benda-benda peninggalan ini ditempatkan di sebuah museum, namun ada juga benda-benda peninggalan yang tersimpan di beberapa Pura. Bahkan hingga kini benda-benda tersebut disakralkan dan disucikan oleh masyarakat pendukungnya. Salah satu Pura di Bali yang menyimpan peninggalan prasejarah adalah Pura Kebo Edan. Pura ini berlokasi di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Adapun jarak tempuh dari pusat Kota Denpasar menuju lokasi Pura sekitar 21,9 km, dengan waktu tempuh sekitar 36 menit perjalanan.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Pura Kebo Edan menyimpan berbagai macam arca Siwa Bhairawa. Arca ini merupakan perwujudan dari Siwa dan Budha dalam bentuk raksasa. Raja-Raja di Tampaksiring pada zaman kerajaan dulu menganut aliran Siwa Bhairawa. Pura Kebo Edan bukanlah Pura untuk meminta anugerah ilmu pengeleakan (ilmu hitam), melainkan sebagai tempat untuk memohon kesembuhan dan meminta tirta pakuluh yang digunakan pada hewan ternak saat mengalami grubug (terkena musibah). Terutama hewan ternak sapi dan babi, biasa meminta tirta di sini.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Hari raya atau piodalan di Pura Kebo Edan jatuh pada saat upacara Tumpek Kandang (upacara yang berkaitan dengan hewan ternak dan sejenisnya berdasarkan kepercayaan masyarakat Hindu Bali). Pura Kebo Edan dibagi atas tiga areal berdasarkan tingkat kesakralannya (tri mandala), yakni jaba (nista mandala), madya (madya mandala), dan jeroan (utama mandala). Pada areal jeroan merupakan tempat berstananya arca-arca peninggalan. Dari sekian banyak pelinggih, terdapat pelinggih utama yakni Pelinggih Bhatara Kebo Edan. Pada pelinggih ini terdapat arca seekor kerbau yang lehernya tergantung lonceng. Di samping arca kerbau tersebut, terdapat mangkuk darah dan tengkorak yang menjadi atribut dari Siwa Bhairawa. Pada sebelah kirinya terdapat Pelinggih Bhatara Siwa Bhairawa.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Arca Siwa Bhairawa memiliki wujud yang cukup menyeramkan dan memiliki tinggi yang mencapai 3,60 meter. Arca ini memiliki karakter yang menyerupai raksasa menari-nari di atas mayat manusia. Masyarakat sekitar menyebut arca tersebut dengan istilah Ratu Sakti atau Ratu Balian. Arca Siwa Bhairawa diperkirakan merupakan peninggalan zaman Kertanegara sekitar abad ke-13 Masehi. Ciri-ciri lain dari arca ini yakni memiliki rambut ikal, berkacak pinggang, wajahnya seperti memakai topeng dengan pengikat di belakang kepala, serta terdapat ular membelit pada bagian kaki dan tangannya. Pada arca Siwa Bhairawa ini juga terdapat kemaluan laki-laki dan lubang kecil di sebelahnya.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Begitulah kisah dan keunikan Pura Kebo Edan ini, yang merupakan salah satu cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah. Apabila kalian ingin mengunjungi Pura ini sebaiknya menggunakan sarana (pakaian) yang lengkap seperti kain (kamen) dan pengikat kain (selendang). Bagi kalian yang sedang dalam masa menstruasi disarankan untuk tidak memasuki areal Pura, hal ini demi menjaga kesucian dan kesakralan Pura. Perlu diingat juga untuk menjaga sopan santun dan menghargai lingkungan sekitar Pura.

 

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *