Pura yang Diyakini Memiliki Mitos Bulan Jatuh dan untuk Memohon Turun Hujan

Setiap Pura di Bali memiliki sejarah, latar belakang, dan keunikannya tersendiri. Berbagai mitos dan kisah menyelimuti hampir di setiap keberadaan Pura di Bali. Salah satu Pura yang memiliki cerita dan mitos yang sudah terkenal di seluruh penjuru Bali, adalah Pura Penataran Sasih. Pura ini merupakan salah satu Pura yang memiliki latar sejarah yang sangat panjang. Pura ini berlokasi di Banjar atau Dusun Intaran, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Adapun jarak tempuh dari pusat Kota Denpasar menuju lokasi Pura sekitar 22,4 km, dengan waktu tempuh sekitar 41 menit perjalanan.

Pura Penataran Sasih banyak diketahui oleh masyarakat sekitar ataupun masyarakat luar dengan berbagai mitos yang ada. Salah satu mitos yang terkenal adalah “Bulan Pejeng”. Pura Penataran Sasih memiliki “Bulan Pejeng” yang merupakan nekara perunggu berukuran 186,5 cm dan memiliki kaitan dengan Kebo Iwa. Dikisahkan Kebo Iwa merupakan Mahapatih Kerajaan Bali Kuno yang konon dikalahkan oleh Gajah Mada melalui taktik licik guna menguasai Pulau Bali. Pura Penataran Sasih adalah Pura tertua yang merupakan pusat kerajaan pada zaman Bali Kuno. Pura ini dikenal masyarakat sebagai Pura Penataran sekaligus pemujaan awal terjadinya kehidupan di dunia.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Melihat dari keberadaan benda-benda arkeologis di Pura tersebut, Pura Penataran Sasih sudah ada sebelum pengaruh Hindu masuk ke Bali. Diperkirakan Pura ini sudah ada sekitar 300 tahun sebelum Masehi. Sementara Agama Hindu masuk ke Bali sekitar abad ke-8. Terdapat nilai simbolis magis yang tinggi dalam nekara perunggu yang terdapat di Pura Penataran Sasih. Bulan Pejeng atau nekara perunggu diyakini dipergunakan dalam upacara meminta turun hujan. Pada nekara perunggu tersebut terdapat hiasan kodok muka yang diyakini sebagai sarana penghormatan kepada leluhur sebagai pelindung. Dalam hal ini berkaitan dan berfungsi sebagai media untuk memohon turunnya hujan. Banyak kisah yang menyelimuti asal mula keberadaan Bulan Pejeng, salah satunya bahwa nekara ini dahulu merupakan roda dari kereta langit yang menyebarkan sinar terang, sehingga pada malam hari selalu terang benderang.

Dikisahkan apabila nekara ditabuh akan menimbulkan suara menyerupai petir yang mengundang turunnya hujan. Kisah lainnya menyebutkan bahwa nekara ini adalah perhiasan telinga dari Dewi Ratih (Dewi Bulan dalam mitologi Hindu Bali). Selain terdapat nekara perunggu, di Pura Penataran Sasih juga terdapat peninggalan berupa pecahan prasasti yang ditulis menggunakan Bahasa Kawi dan Sansekerta pada media batu padas. Diperkirakan pecahan prasasti tersebut berasal dari abad ke-9 atau permulaan abad ke-10. Di Pura Penataran Sasih juga tersimpan beberapa peninggalan berupa arca-arca, prasasti, dan fragmen. Pura Penataran Sasih terdiri atas lima area, yakni Pura Penataran Sasih sebagai Pura induk, pada bagian Utara terdapat Pura Bale Agung, Pura Ratu Pasek, Pura Taman Sari, dan pada bagian Selatan terdapat Pura Ibu.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Dari pintu masuk pada sisi jaba tengah terdapat bangunan pemujaan Padma Kurung sebagai tempat penyimpenan Sang Hyang Jaran. Di deretan bagian Timur terdapat bangunan pemujaan berupa pengaruman yang difungsikan sebagai tempat menstanakan simbol-simbol Bhatara dari seluruh Pura Kahyangan Tiga di Pejeng. Bagian Utara pengaruman terdapat Pelinggih Ratu Sasih, ada pula Pelinggih Pesimpangan Ida Bhatara Gana dan Gedong Pasimpangan Bhatara Wisnu. Di bagian Barat terdapat Gedong Pasimpangan Bhatara Mahadewa.

Selain menyimpan benda-benda peninggalan purbakala, Pura Penataran Sasih juga terkenal akan tarian sakralnya yaitu Tari Sang Hyang Jaran. Tarian ini dipentaskan pada upacara besar seperti upacara caru balik sumpah ataupun upacara ngenteg linggih. Tari Sang Hyang Jaran dibawakan oleh empat orang penari dan penarinya bukanlah orang sembarangan. Pemilihan penari berdasarkan atas petunjuk secara niskala (sesuhunan). Penari-penari tersebut akan kesurupan (kerauhan) dan menari sesuai dengan arahan niskala (alam tidak nyata).

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Itulah mitos, kisah, dan keunikan yang terdapat di Pura Penataran Sasih. Bagi kalian yang ingin mengunjungi Pura ini disarankan untuk menggunakan pakaian adat Hindu lengkap atau paling tidak menggunakan kain (kamen) dan pengikat kain (selendang). Disarankan bagi yang sedang menstruasi untuk tidak memasuki areal suci Pura agar tidak mengotori kesucian Pura Penataran Sasih. Perlu diingat, bagi kalian yang mengunjungi Pura Penataran Sasih untuk selalu menghormati dan menjaga lingkungan di sekitar areal Pura.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *