Menikmati Keindahan Cagar Budaya Pura Luhur Batu Belig di Desa Rejasa, Bali

Pulau Bali terkenal akan sebutan Pulau Seribu Pura, hal ini dikarenakan hampir setiap desa di Bali memiliki Pura atau tempat suci bagi umat Hindu. Setiap Pura di Bali memiliki ciri khas, keunikan, dan ceritanya tersendiri dibalik berdiri kokohnya Pura tersebut. Salah satunya Pura yang sekaligus menjadi cagar budaya, yakni Pura Luhur Batu Belig. Pura Luhur Batu Belig berlokasi di Desa Rejasa, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Jarak tempuh dari Kabupaten Tabanan menuju desa tersebut ±17 km atau waktu tempuh sekitar 15 menit. Pura Luhur Batu Belig berada di pinggir sungai kecil sebelah Barat Desa Adat Rejasa tepatnya di sebelah Barat Dusun atau Banjar Kelembang.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Pura Luhur Batu Belig memiliki luas sekitar ±10 are. Nama Pura ini berasal dari tiga kata, yaitu luhur (penghormatan masyarakat sekitar atas Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasi Ida Hyang Batu Belig), kata batu sebagai ciri khas bangunan pemujaan (pelinggih) utama berupa batu besar, dan kata belig berasal dari Bahasa Bali yang berarti licin akibat ditumbuhi lumut. Fungsi Pura ini bagi masyarakat Desa Rejasa adalah untuk keberhasilan dalam menempuh perjalanan hidup dan memohon keselamatan hidup.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Struktur pembagian bangunan di Pura tersebut, menggunakan konsep tri mandala (konsep pembagian ruang menurut Agama Hindu) sebagai zonasi kesakralan Pura tersebut. Pada bagian utama Pura terdapat 13 buah benda cagar budaya tidak bergerak dan dua buah benda cagar budaya bergerak berupa batu alam yang dijadikan sebagai tempat pemujaan (pelinggih), terdapat pula bangunan suci lain, seperti bale pemayasan, bale pelapuh, bale ajengan, dan bale surat. Pada bagian tengah Pura terdapat bangunan suci, yakni bale agung, pelinggih asu, pewaregan, dan bale gong. Sedangkan, pada bagian luar terdapat bangunan suci, yaitu bale kulkul. Bangunan suci tersebut menggunakan langgam arsitektur Bali pada umumnya dan banyak terdapat batu alam yang diperkirakan berasal dari zaman prasejarah.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Selain menjadi tempat persembahyangan, Pura Luhur Batu Belig kini sudah menjadi daya tarik wisata di Desa Rejasa. Sudah banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Pura ini. Wisatawan banyak berkunjung dengan alasan keunikan yang ada di Pura Luhur Batu Belig, berupa batu besar yang berasal dari zaman prasejarah. Kondisi iklim yang sejuk dan areal Pura yang bersih, serta sungai kecil yang mengalir di pinggir Pura menambah keindahan Pura ini di mata wisatawan. Wisatawan yang berkunjung ke Pura Luhur Batu Belig akan dipandu oleh seorang juru pelihara yang setia berjaga di Pura tersebut. Wisatawan yang masuk ke Pura wajib mengenakan kain (kamen), hal ini dimaksudkan untuk tetap menjaga kesucian Pura. Namun, bagi wisatawan yang tidak membawa kain, di Pura tersebut sudah disediakan. Perlu diingat, bagi wisatawan perempuan yang sedang menstruasi atau haid tidak diperkenankan masuk ke areal Pura. Ini dikarenakan keyakinan bahwa perempuan yang mengalami haid sedang dalam masa kotor (pengertian alam tidak nyata). Jam operasional untuk wisatawan yang ingin berkunjung ke Pura ini, mulai pukul 08.00-16.00 WITA. Tidak ada harga tiket masuk untuk melihat keindahan dan keunikan Pura ini, hanya saja wisatawan dapat memberi sumbangan seiklasnya untuk biaya perawatan Pura.

 

Sumber foto: www.nusantarakumedia.com/IGustiBagusAryaPutra

 

Sesungguhnya banyak potensi alam dan budaya yang dimiliki Bali. Namun, potensi ini kurang digali, dikembangkan, dan diekspos lebih mendalam. Kita sebagai bangsa yang kaya patut bersyukur dan menghargai kebudayaan, serta keindahan alam yang kita miliki dengan tidak merusak dan menjaga berkah yang ada secara tulus ikhlas.

 

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *